Psikologi agama adalah
ilmu yang meneliti tentang pengaruh agama terhadap sikap dan perilaku orang
atau mekanisme yang berbeda dari dalam diri seseorang, karena cara bepikir
seseorang, bersikap, bereaksi dan berperilaku tidak dapat dipisahkan dari keyakinannya,
karena keyakinan termasuk dalam konstruksi kepribadiannya. Lalu mengapa dalam
bimbingan konseling islam perlu mempelajari psikologi agama? Itu dikarenakan
psikologi agama meneliti dan menelaah kehidupan beragama dan mempelajari berapa
besar pengaruh keyakinan agama itu dalam sikap dan tingkah laku serta keadaan
hidup pada umumnya. Selain itu psikologi agama juga dapat digunakan untuk
membangkitkan perasaan dan kesadaran beragama. Pegobatan pasien-pasien di rumah
sakit, usaha bimbingan dan penyuluhan narapidana di Lembaga Pemasyarakatan juga
menggunakan psikologi agama ini. Demikian pula dalam lapangan pendidikan
psikologi agama dapat difungsikan pada pembinaan moral dan mental keagamaan
peserta didik, oleh karenanya dalam bimbingan konseling islam sangat di
anjurkan untuk mempelajari psikologi agama.
Psikologi agama tergolong
cabang psikologi yang berusia muda. Sumber-sumber barat umumnya merujuk awal
kelahiran psikologi agama adalah dari karya Edwin Diller Sturbuck dan William
James. Buku karya E.D.Sturbuck di terbitkan tahun 1899, dinilai sebagai buku
paling khusus membahas masalah yang menyangkut psikologi agama. Setahun
kemudian William James menerbitkan buku yang berisi pengalaman agama. Buku-buku
ini di anggap sebagai buku yang menjadi perintis awal dari lahirnya psikologi
agama menjadi disiplin ilmu yang berdiri sendiri. Setelah negara islam terbebas
dari jajahan barat, secara bertahap muncul karya-karya ilmuwan muslim. Karya
penulis muslim di zaman modern, seperti buku al-maghary bagaimanapun dapat di
sejajarkan dengan karya yang di hasilkan ahli psikologi agama lainnya.
Charlotte Buchler
mengungkapkan saat menginjak usia dewasa terlihat adanya kemantapan jiwa
mereka: “saya hidup dan saya tahu untuk apa”, dengan kata lain, orang
dewasa sudah memahami nilai-nilai yang dilihatnya dan berusaha untuk
mempertahankan nilai-nilai yang dimilikinya. Orang
dewasa sudah memiliki identitas yang jelas dan kepribadian yang mantab.
Kemantapan jiwa seseorang ini setidaknya memberikan gambaran tentang bagaimana
sikapkeberagamaan pada orang dewasa. Sikap keberagamaan orang dewasa memiliki perspektif yang luas didasarkan atas
nilai-nilai yang dipilihnya. Beragama bagi orang dewasa suah merupakan sikap
hidup dan bukan sekedar ikut-ikutan. Keberagamaan pada orang dewasa memiliki
ciir-ciri sebagai berikut:
1. Menerima kebenaran agama berdasarkan pemikiran yang matang, bukan
itkut-ikutan
2. Cenderung bersifat realis, sehingga norm agama banyak diaplikasikan pada
tingkah lau
3. Bersikap positif pada ajaran dan norma agama dan berusaha memperdalam
pemahaman keagamaan
4. Tingkat ketaatan beragama berdasarkan atas pertimbangan dan tanggung awab
diri
5. Bersikap lebih terbuka dan wawasan yang lebi luas
6. Bersikap lebih kritis terhadap ajaran agama, sehingga kemantaban
beragamaslain didasarkan oleh pikiran juga di dsarkan oleh hati nurani
7. Sikap keberagamaan cenderung mengarah kepada tipe kepribadian masing-masing
8. Terlihat adanya hubungan antara sikap keberagamaan dengan kehidupan sosial.
Di dalam Al-Quran manusia
merupakan salah satu subjek yang dibicarakan, terutama asal-usul dan konsep
penciptaanya, menurut KBBI hakikat adalah intisari atau dasar didalamAl-Quran telah dijelaskan
hakikat manusia yang berbunyi :
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنْ كُنْتُمْ فِي رَيْبٍ
مِنَ الْبَعْثِ فَإِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ مِنْ نُطْفَةٍ ثُمَّ
مِنْ عَلَقَةٍ ثُمَّ مِنْ مُضْغَةٍ مُخَلَّقَةٍ وَغَيْرِ مُخَلَّقَةٍ لِنُبَيِّنَ
لَكُمْ ۚ وَنُقِرُّ فِي الْأَرْحَامِ مَا نَشَاءُ إِلَىٰ أَجَلٍ مُسَمًّى ثُمَّ
نُخْرِجُكُمْ طِفْلًا ثُمَّ لِتَبْلُغُوا أَشُدَّكُمْ ۖ وَمِنْكُمْ مَنْ
يُتَوَفَّىٰ وَمِنْكُمْ مَنْ يُرَدُّ إِلَىٰ أَرْذَلِ الْعُمُرِ لِكَيْلَا
يَعْلَمَ مِنْ بَعْدِ عِلْمٍ شَيْئًا ۚ وَتَرَى الْأَرْضَ هَامِدَةً فَإِذَا
أَنْزَلْنَا عَلَيْهَا الْمَاءَ اهْتَزَّتْ وَرَبَتْ وَأَنْبَتَتْ مِنْ كُلِّ
زَوْجٍ بَهِيج
Hai manusia, jika kamu dalam
keraguan tentang kebangkitan (dari kubur), maka (ketahuilah) sesungguhnya Kami
telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari
segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan
yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu dan Kami tetapkan dalam
rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian
Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur-angsur) kamu
sampailah kepada kedewasaan, dan di antara kamu ada yang diwafatkan dan
(adapula) di antara kamu yang dipanjangkan umurnya sampai pikun, supaya dia
tidak mengetahui lagi sesuatupun yang dahulunya telah diketahuinya. Dan kamu
lihat bumi ini kering, kemudian apabila telah Kami turunkan air di atasnya,
hiduplah bumi itu dan suburlah dan menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan
yang indah.
Daftar pustaka
Djuned, Subki.
2004. Psikologi Agama. Pengantar psikologi agama. Banda Aceh: Ar-Raniry
Press.
Jalaluddin.2010.Psikologi
Agama. Sejarah Perkembangan Psikologi Agama. Jakarta: PT RajaGrafindo
Persada.
Jalaluddin. 2005.
Psikologi Agama. Perkembangan Psikologi Agama. Jakarta: PT RajaGrafindo
Persada.
Rahman, Shaleh
Abdul. 2009. Psikologi Agama. Suatu pengantar dalam Persfektif islam.
Jakarta: Kencana Prenada Media Grub.
Lister, Nico
Syukur. 1982. Pengantar Psikologi Agama. Pengalaman dan Motivasi Beragama.
Lapenas:Sidanglaya.